Ternak Sakit; Lapor Petugas Setempat

Rombongan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan UPT Laboratorium Tuban mengunjungi kandang kelompok ternak di Desa Hadiluwih, Ngadirojo. Kedatangan ini berdasar laporan kejadian kematian ternak oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pacitan.

Kematian ternak yang dilaporkan sejumlah 15 ekor sapi dari bulan Oktober 2021 hingga Maret 2022. Tanda-tanda yang dialami ternak antara lain, lemas, tidak mau makan, dan beberapa mengalami keguguran di trisemester akhir.

Sebagai tindak lanjut penanganan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian khususnya Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah mengambil serum dari sapi yang mengalami kondisi sakit atau keguguran.

Serum yang sudah diperoleh dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates Yogyakarta untuk diperiksa dan diuji Brucellosis, yakni salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang dapat menyebabkan keguguran pada ternak. Selang waktu dua hari, sampel yang telah diuji dan diperiksa mendapatkan hasil negatif sehingga memberikan keyakinan bahwa penyebab ternak keguguran bukan karena PHMS.

Rombongan selanjutnya mengunjungi langsung lokasi kejadian guna mendalami kasus tersebut. Mendengar wawancara dari peternak, drh. Iswahyudi selaku kepala bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur menghimbau kepada peternak untuk melaporkan kepada petugas medik atau paramedik setempat jika ternak mengalami gejala sakit, agar ternak dapat segera diperiksa dan diobati.

Karena musim yang seringkali berubah dari hujan ke kemarau, ternak mudah mengalami penyakit Bovine Ephemeral Disease (BEF) atau demam tiga hari yang menyebabkan panas tinggi dan tidak mau makan sehingga bisa berdampak pada keguguran pada ternak. “Selain itu asupan pakan yang bagus juga penting agar ternak tetap sehat”, himbau Iswahyudi, kemarin (14/03).